Gegara Tunggakan Rp5 Juta, Siswa di Bekasi Terancam Putus Sekolah
Bekasi Timur — Kisah seorang siswa di Kota Bekasi yang terancam putus sekolah akibat persoalan tunggakan biaya pendidikan mendapat perhatian. Kondisi tersebut dialami Nabil, siswa yang disebut telah menyelesaikan pendidikan di salah satu SMP swasta di wilayah Bekasi Timur, namun belum memperoleh ijazah karena masih memiliki tunggakan biaya sekolah sekitar Rp5 juta.
Persoalan tersebut kemudian diadukan oleh orang tua Nabil kepada Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Sang ibu, Anita, mengaku kesulitan melunasi tunggakan tersebut lantaran hanya mengandalkan penghasilan harian sekitar Rp50 ribu.
Anita merupakan seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai pelayan di sebuah warung bakso. Dengan penghasilan yang terbatas, kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri, sementara di sisi lain ia harus mencari jalan keluar agar pendidikan anaknya tidak terhenti.
“Saya ingin anak saya tetap sekolah. Tapi untuk melunasi tunggakan sebesar itu, saya memang tidak mampu,” ujar Anita saat menyampaikan persoalannya.
Persoalan semakin pelik karena Nabil kini bersekolah di tingkat SMK di wilayah Mustikajaya, Kota Bekasi. Menurut pengakuan Anita, pihak sekolah meminta Nabil mengundurkan diri apabila hingga Oktober 2026 belum dapat menyerahkan ijazah SMP.
Kondisi tersebut membuat Anita khawatir masa depan pendidikan anaknya harus terhenti hanya karena persoalan administrasi dan keterbatasan ekonomi keluarga.
Atas persoalan itu, Anita berharap Dinas Pendidikan Kota Bekasi dapat membantu mencarikan solusi agar ijazah anaknya dapat diperoleh dan Nabil tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Dinas Pendidikan Kota Bekasi melalui Kepala Seksi SMP, Suyanti, disebut telah menerima pengaduan dari wali murid terkait persoalan tersebut.
“Kita akan coba menghubungi pihak sekolah SMP, tentu kita cari solusi,” kata Suyanti kepada Anita, di Ruang Kerjanya, Rabu (4/11).
Selain meminta bantuan pemerintah daerah, Anita juga berencana mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bekasi. Langkah tersebut ditempuh untuk mencari dukungan pembiayaan agar tunggakan sekolah dapat diselesaikan.
Anita juga berencana meminta bantuan kepada anggota DPRD Kota Bekasi sebagai wakil rakyat untuk membantu mencarikan solusi atas persoalan pendidikan yang dihadapi keluarganya.
Bagi Anita, persoalan tersebut bukan semata soal tunggakan biaya sekolah. Ada masa depan seorang anak yang dipertaruhkan.
Ia berharap ada jalan keluar sehingga Nabil tetap dapat bersekolah dan tidak harus kehilangan kesempatan menempuh pendidikan hanya karena kondisi ekonomi keluarganya.
Kasus ini sekaligus menjadi perhatian mengenai pentingnya memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan, sekaligus perlunya solusi yang berpihak pada kepentingan siswa ketika persoalan biaya pendidikan terjadi.


